Informasi Berita Aktual - Kemacetan lalu lintas sudah menjadi hal yang biasa dirasakan warga Kota Bekasi, khususnya pada jam-jam sibuk, yakni pagi hari saat warga berangkat kerja dan sore hari ketika pulang kerja.
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengatakan, kemacetan itu timbul setelah ada empat proyek strategis nasional yang berada di wilayah Kota Bekasi.
Keempat proyek itu yakni Tol Becakayu, pembangunan LRT (Light Rail Transit), Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II, dan kereta cepat.
Menurut Rahmat, dampak yang paling terasa pada Kota Bekasi ialah proyek Tol Becakayu dan proyek tol layang Jakarta-Cikampek serta LRT yang dibangun di area tol.
Pada proyek Tol Becakayu, aktivitas pekerjaan proyek membuat Jalan KH. Noer Ali atau Jalan Raya Kalimalang retak dan cenderung berlubang.
Lalu proyek yang dikerjakan di dalam Tol Japek, membuat arus lalu lintas dalam tol macet sehingga sejumlah kendaraan bertonase besar dan kendaraan pribadi masuk ke jalan arteri Kota Bekasi, seperti Jalan KH. Noer Ali dan Jalan Jenderal Sudirman.
"Elevated tol dari Cikunir, yang macetnya itu di jalan tol. Betul wilayahnya ada di Kota Bekasi. Akibat dari macet di tol, membuat kendaraan bertonase besar larinya ke jalan arteri Kota Bekasi, merusak jalan sehingga menambah beban dari proses lalu lalang yang ada," kata Rahmat, Kamis (21/2/2019).
Jalan KH. Noer Ali
Menurut pantauan pada pukul 07.45 WIB, arus lalu lintas di Jalan KH. Noer Ali tersendat di sejumlah titik. Salah satunya di samping BCP.
Arus lalu lintas tersendat ketika pengendara memasuki Jalan KH. Noer Ali dari Jalan M. Hasibuan arah Jakarta. Hal itu karena ada perbaikan jalan yang dilakukan bertahap. Namun, terhambatnya arus lalu lintas tidak menimbulkan antrean kendaraan yang panjang.
Sebagian pengendara bisa melintas di jalan itu melalui jembatan BCP untuk menghindari perbaikan jalan. Namun untuk arah sebaliknya, yakni menuju Kota Bekasi, arus lalu lintas tersendat, tepatnya di samping BCP juga.
Jalan yang berlubang dan tidak rata membuat pengendara menahan laju kendaraannya sehingga menimbulkan antrean. Hal itu diperparah dengan kondisi jalan yang dekat dengan lampu merah BCP sehingga menambah antrean kendaraan.
"Di sini setiap pagi dan sore, pasti ya macet-macet lah. Kalau Kalimalang (Jalan KH. Noer Ali) macetnya karena jalan rusak sih jadi kan orang enggak mungkin ngebut. Mereka pelan-pelan, itu yang buat macet sih," kata Nasir, salah seorang warga Bekasi Barat yang kerap melintas di Jalan KH. Noer Ali, Jumat (22/2/2019).
Selain itu, titik kemacetan juga terdapat di Jalan KH. Noer Ali, tepatnya di kolong Tol JORR arah Jakarta.
Lebar jalan yang kecil, ditambah jalan yang tidak rata dan terdapat lubang besar membuat arus lalu lintas tersendat dan terjadi antrean kendaraan cukup panjang sekitar 100 meter. Hal itu juga diperparah karena di ujung jalan usai melintasi kolong Tol JORR pengendara akan melewati perempatan jalan.
Silih berganti jalan dari pengendara yang berbeda arah membuat arus lalu lintas juga tersendat. Kemacetan di titik itu pun tidak berlangsung lama karena pengendara terus bergerak meski antre.
Berdasarkan pantauan, berkendara di Jalan KH. Noer Ali kerap ada hambatan atau macet sedikit di sejumlah titik. Hanya saja dua titik di atas yang cukup terasa kemacetannya.
Sekitar Stasiun Bekasi (Jalan Ir. Juanda)
Usai memutari sejumlah jalan protokol di Kota Bekasi, seperti Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Ahmad Yani, merasa kedua jalan besar itu tidak memberikan kemacetan yang cukup parah. Hanya hambatan-hambatan kecil arus lalu lintas, namun tidak menguras waktu banyak.
Ketika melintas di Jalan Ir. Juanda, tepatnya di depan Stasiun Bekasi, antrean panjang mengular dari gerbang masuk stasiun hingga sepanjang sekitar 200 meter.
Antrean itu dipicu oleh pengguna Kereta Listrik (KRL) yang menyeberang karena tak ada fasilitas menyeberang seperti Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Lalu juga para pengemudi ojek online yang menurunkan dan mangkal di pinggir jalan.
Kemudian juga karena sejumlah angkutan perkotaan (angkot) yang masih ngetem di pinggir jalan, padahal sudah disediakan tempat untuk mangkal di samping stasiun.
"Wah ini mah macetnya panjang banget kalau pagi sama sore, siang juga kadang masih antre. Ya itu sih, jalannya enggak terlalu besar ya, orang pada nyeberang, ojol mangkal, angkot juga ya jadi macet gini," ujar Nia, pengendara sepeda motor yang kerap melintasi Stasiun Bekasi.
Sekitar Stasiun Bekasi (Jalan Perjuangan)
Kemacetan juga terdapat di Jalan Perjuangan, tepatnya di depan Gerbang Stasiun Bekasi pintu utara.
Kondisi jalan yang kurang rata, ditambah angkot yang kerap melambatkan kendaraannya saat hendak berbelok ke Jalan Pusdiklat membuat arus lalu lintas tersendat.
Selain itu, ada ojol yang memarkirkan kendaraannya di trotoar dan ojol yang menurunkan penumpang di pinggir jalan serta para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang jumlahnya tak banyak.
Hal itu juga membuat arus lalu lintas tersendat. Kemacetan pada titik ini terbilang bahaya karena pintu utara Stasiun Bekasi berdekatan dengan palang pintu kereta.
"Di sini yang paling parah menurut saya, ini tuh kalau sore kacau, apalagi yang di depan tuh (Jalan Ir. Juanda). Itu sore, pagi macet panjang sampai malas lewatnya orang mutar balik cari jalan lain," tutur Ridho, warga Bekasi Timur. Dia berharap ada solusi konkret dari Pemkot Bekasi terkait masalah kemacetan di Kota Bekasi.
"Sebenarnya sih Bekasi ini kota ya, enggak parah-parah banget macetnya. Cuma jam sibuk saja, itu pun cuma di jalan besar dan tidak 'wah' banget macetnya juga. Ya semoga sih ada solusi ya dari Pemkot, dan proyek nasional itu cepat selesai lah karena lumayan itu debunya dari situ jalan juga rusak kan," ujar Ridho.
Baca Juga : Jangan mengkonsumsi ikan, kerang dari Teluk Jakarta |Agen Poker
Baca Juga : Bandung mengeluarkan kartu ID pertama dengan kolom agama asli | Agen Poker


